beberapa sosok manusia tengah bergerak pelan, gemetar dalam kelam. Seorang perempuan, seorang ibu tengah merangkul, merengkuh beberapa manusia korban sekaligus dalam pelukannya, sambil berlutut bersama. Wajah sang bunda tengadah ke atas. Teriakannya berpendar-pendar tanpa suara, matanya menerawang jauh. Rupanya tengah dibisikkan sebuah doa manusia pada situasi batas daya kemampuan hidupnya. Doa sunyi dari para korban tragedi kekerasan politik di negeri ini. Doa seorang anak, seorang mahasiswa, seorang petani, seorang warga miskin urban dan seorang perempuan muda yang tengah mendekap seorang bayi mungil. Sosok-sosok manusia yang sengaja dibuat dalam posisi bertekuk-lutut dengan kepala tertunduk lemah, untuk menggambarkan posisi yang dikenal sebagai simbol gesture dari orang yang teraniaya, tidak berdaya dan diancam untuk ditaklukkan. selengkapnya baca di sini
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Lawan Represi Berpendapat!
seperti yang kita ketahui bersama, kebebasan berpendapat adalah hak setiap insan yang dilindungi oleh konstitusi. tapi tidak selalu demikian dalam prakteknya, baru-baru ini kembali hal kontroversial dilakukan oleh rezim berkuasa. kejagung tanpa landasan yang cukup masuk akal sehat telah menetapkan surat keputusan pelarangan peredaran 5 (lima) buku, yakni : Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto (ditulis John Roosa, diterbitkan Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra), Suara Gereja bagi Umat Penderitaan Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri (ditulis Socratez Sofyan Yoman, diterbitkan Reza Enterprise), Lekra Tak Membakar Buku Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakyat 1950-1965 (ditulis Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan, diterbitkan Merakesumba Lukamu Sakitku), Enam Jalan Menuju Tuhan (ditulis Darmawan, diterbitkan Hikayat Dunia), dan Mengungkap Misteri Keragaman Agama (ditulis Syahruddin Ahmad, diterbitkan Yayasan Kajian Alquran Siranindi. benar.., hal ini tentu mengingatkan kita pada masa orde baru dimana kebebasan berpendapat menjadi hal yang sangat tabu dan akan berujung pada represi. pelarangan buku ini menunjukkan cerminan sebuah rezim otoriter. sebagus apapun bungkus pencitraan yang dilakukan oleh penguasa, fakta tidak mungkin ditutupi dan masyarakat tentulah belajar mulai dari apa yang dia rasakan, dia dengar dan dia lihat. dan tentulah kita akan melawan segala bentuk represi yang diciptakan oleh rezim. karena sejatinya kebebasan berekspresi dan berpendapat adalah jembatan bagi rakyat untuk mendapatkan keadilan dan objektifitas dari masalah-masalah yang dihadapi rakyat. institut sejarah sosial indonesia sebagai penerbit dari “dalih pembunuhan massal, gerakan 30 september dan kudeta soeharto“ melepas copyright buku ini kepada publik sebagai bentuk perlawanannya terhadap represi berpendapat yang dilakukan oleh rezim SBY. titik berangkat kita bukan dari kebenaran sebuah pendapat tapi lebih kepada hak setiap insan yang asasi. untuk itu secara mari secara tegas kita menolak segala bentuk represi yang dilakukan rezim.
bagi anda yang ingin membaca "pendapat" jhon rossa ini, silahkan download bukunya di sini
Label:
buku
Ebook Membongkar Gurita Cikeas

Label:
buku
Epos Gerakan Rakyat Pekerja Malaysia
"Perjalanan yang cemerlang", sebuah epos sejarah perjuangan rakyat pekerja di Malaya (sekarang Malaysia ) melawan penindasan dari kolonialisme inggris. Catatan ini di kemas dalam bentuk komik bergambar yang di terbitkan oleh pejabat pembebasan Malaya. Dalam catatan ini disebutkan pula bagaimana solidaritas rakyat pekerja Malaya membantu perjuangan rakyat pekerja Indonesia mengusir kolonialisme belanda. Sebuah catatan yang dapat membantu kita merangkai kembali serpihan-serpihan sejarah perjuangan rakyat pekerja di asia tenggara melawan kapitalisme.
Label:
buku
Revolusi Permanen

Label:
buku
Langganan:
Postingan (Atom)