Tentang Konsensus Serikat Buruh Kuning

Tanggapan untuk Surya Tjandra.

Akhir tahun kemarin,  jagad persilatan gerakan buruh diwarnai peristiwa menarik.
Saat itu, 23 November 2009, berlangsung “Trade Unions Meeting for Political Consensus” atau TUMPOC yang digagas oleh Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI). KSBSI menyelenggarakan pertemuan ini bersama dua konfederasi lain, yakni Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI).

marini efendi

JIKA

jika hari ini matahari begitu angkuh
dan angin hanya mampu mengusir penat yang datang silih berganti

lalu bunga jalanan dengan lantang berdiri;
biarlah debu itu menempel seperti noda
menunggu hingga air yang jatuh dari selangkangan langit
untuk menghapus jejak jejak dosa yang tak bertuan

jika hari ini matahari lupa akan dirinya
hingga doa itu terjatuh menjadi butiran butiran embun di pagi hari
maka tusukkan saja belati tepat di jantung waktu
biarkan tangis itu pecah, berserakan menjadi ratapan ratapan tanpa tepi...

jika hari ini matahari itu sadar
dia akan tau
betapa pentingnya sebuah kejujuran;

cempaka raya,06 Februari 2010

menata derap merajut langkah

beberapa sosok manusia tengah bergerak pelan, gemetar dalam kelam. Seorang perempuan, seorang ibu tengah merangkul, merengkuh beberapa manusia korban sekaligus dalam pelukannya, sambil berlutut bersama. Wajah sang bunda tengadah ke atas. Teriakannya berpendar-pendar tanpa suara, matanya menerawang jauh. Rupanya tengah dibisikkan sebuah doa manusia pada situasi batas daya kemampuan hidupnya. Doa sunyi dari para korban tragedi kekerasan politik di negeri ini. Doa seorang anak, seorang mahasiswa, seorang petani, seorang warga miskin urban dan seorang perempuan muda yang tengah mendekap seorang bayi mungil. Sosok-sosok manusia yang sengaja dibuat dalam posisi bertekuk-lutut dengan kepala tertunduk lemah, untuk menggambarkan posisi yang dikenal sebagai simbol gesture dari orang yang teraniaya, tidak berdaya dan diancam untuk ditaklukkan. selengkapnya baca di sini

Hitler dan SBY



wan oji sudah pindah rumah

mungkin orang lain asing dengan nama mu, karena kau memang bukan selebritis yang setiap hari menghias layar kaca. tapi itu bukan yang terpenting, bagi kami kau telah memberikan yang terbaik bagi banyak orang yang dimarjinalkan oleh penguasa negeri ini. selamat jalan kawan.

download buku wan oji sudah pindah rumah di sini 

hikayat sang buruh